Rabu, 21 Oktober 2015

makalah kepemimpinan dan komunikasi pendidikan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Berbicara mengenai Perang Khandaq, wawasan kita kembali membuka lembaran sejarah di masa silam, dimana, kala itu pasukan koalisi/sekutu Yahudi dan Quraisy dapat mengumpulkan pasukannya sejumlah 10.000 pasukan. Jumlah ini tak hanya fantastis secara kuantitas untuk perang pada masa itu, dan memang jumlah itulah jumlah maksimal yang bisa dikerahkan oleh pasukan Ahzab (sekutu). Sedangkan, dari kaum muslimin yang berada di Madinah, hanya terkumpul 3000 pasukan yang siap dan mampu untuk berperang. Kita bisa melihat perbandingannya yang sungguh sangat tidak berimbang, bahkan dikatakan jumlah pasukan musuh melebihi jumlah orang-orang yang berada di Madinah pada saat itu terhitung perempuan dan anak-anak kecilnya. Selain jumlah yang telah kalah telak, masih ada lagi kondisi yang tidak menguntungkan lainnya. Yaitu musim yang teramat dingin, gagal panen dan kurma dan krisis pangan, bencana kelaparan serta rangkaian perang-perang sebelumnya yang begitu melelahkan. Dan ini masih belumlah cukup, masih ditambah lagi dengan hasutan musuh agar kaum Yahudi dari suku Bani Quraizhah yang saat itu tinggal di wilayah Madinah, dan memiliki perjanjian damai dengan Negara Madinah yang dipimpin oleh Rasulullah Muhammad shallallahu ’alaihi wasallam untuk berperang melawan Rasulullah. Situasi benar-benar kritis, waktu yang tersedia tidaklah banyak, dan kabar dari intelijen Rasulullah, kurang lebih hanya satu minggu yang tersisa sebelum musuh benar-benar masuk dan menyerang Madinah serta akan meluluh lantakkannya tanpa sisa. Ditimbang dari segi manapun juga, pasukan Kaum Muslimin begitu kalah dari berbagai hal. Mulai dari persediaan makanan, kelengkapan persenjataan, dan juga jumlah pasukan. Menghadapi berbagai situasi dan kondisi yang sangat kompleks ini, maka diperlukan seorang pemimpin yang sangat cerdas dan tepat dalam memimpin ummatnya dalam mengambil langkah dan keputusannya. B. Perumusan Masalah Dari latar belakang masalah tersebut, maka dalam penulisan makalah ini penulis merumuskan masalah sebagai berikut: 1. Bagaimana kepemimpinan Rasulullah saw dalam perang khandaq? 2. Bagaimana strategi Rasulullah saw dalam perang khandaq? C. Tujuan penelitian 1. Untuk mengetahui kepemimpinan Rasulullah saw dalam perang khandaq 2. Untuk mengetahui strategi Rasulullah saw dalam perang khandaq BAB II KAJIAN TEORI A. Pengertian Kepemimpinan Secara etimologi, kepemimpinan berasal dari kata dasar pemimpin, dalam bahasa Inggrisnya “leadership” yang berati kepemimpinan, dari kata dasar “leader” berarti pemimpin dan akar katanya “to lead” yang terkandung beberapa arti yang saling erat berhubungan: bergerak lebih awal, berjalan di awal, mengambil langkah awal, berbuat paling dulu, mempelopori, mengarahkan pikiran-pendapat-orang lain, membimbing, menuntun, menggerakkan orang lain melalui pengaruhnya ( Usman, 2006 ). Sedangkan menurut Inu Kencana Syafiie, secara etimologi kepemimpinan dapat diartikan sebagai berikut: 1) Berasal dari kata “pimpin” (dalam Bahasa Inggris “lead”) berarti bimbing atau tuntun. Dengan demikian di adalamnya ada dua fihak yaitu yang dipimpin (umat) dan yangmemimpin (imam). 2) Setelah ditambah awalan “pe” menjadi “pemimpin” (dalam bahasa Inggris “leader” ) berarti orang yang mempengaruhi orang lain melalui proses kewibawaan komunikasi sehingga orang lain tersebut bertindak untuk mencapai tujuan tertentu. 3) Apabila ditambah akhiran “an” menjadi “pimpinan” artinya orang yang mengepalai. Antara pemimpin dengan pimpinan dapat dibedakan, yaitu pimpinan (kepala) cenderung lebih sentralistis, sedangkan pemimpin lebih demokratis. 4) Setelah dilengkapi dengan awalan “ke” menjadi “kepemimpinan” (dalam bahasa Inggris “leadership” ) berarti kemampuan dan kepribadian seseorang dalam mempengaruhi serta membujuk pihak lain agar melakukan tindakan npencapaian tujuan bersama, sehingga dengan demikian yang bersangkutan menjadi awal struktur dan pusat proses kelompok ( Syafiie,2000) Secara terminologi terdapat beberapa definisi tentang kepemimpinan. Seseorang pemimpin, baik ia merupakan pemimpin formal maupun informal menjalankan atau melaksanakan “kepemimpinan” yang dengan sendirinya berbeda: derajatnya, bobotnya, daerah jangkauannya dan sasaran-sasarannya ( Winardi, 1983 ) Kepemimpinan adalah suatu proses dimana seseorang dapat menjadi pemimpin ( leader) melalui aktivitas yang terus menerus sehingga dapat mempengaruhi yang dipimpinnya ( followers ) dalam rangka mencapai tujuan organisasi atau perusahaan. Hal ini juga sesuai dengan pengertian kepemimpinan yang disampaikan pada waktu perkuliahan yaitu proses mempengaruhi orang lain sehingga yang dipengaruhi mau mengikuti arahan sang pemimpin. Sedangkan kepemimpinan menurut Terry dalam Davis ( 1985 ) “ Leadership is the relationship in which one person, or the leader influences other to work together willingly on related tasks to attain that which the leader desires, “ kepemimpinan adalah proses mendorong dan membantu orang lain untuk bekerja dengan antusias guna mencapai tujuan. B. Gaya Kepemimpinan Nasution ( 1994 ) mengemukakan bahwa seseorang pemimpin harus mengembangkan suatu gaya dalam memimpin bawahanya. Menurut Hersey dan Blancard ( 1982 ) empat perilaku pemimpin yang spesifik : memberitahukan, menjual, berperan serta, dan mendelegasikan ( telling, selling, participating, delegating ). Keempat gaya dasar kepemimpinan situasional tersebut adalah : 1. S1 Telling ( memberitahukan ) Dicirikan dengan perilaku tugas yang tinggi dan rendah hubungan., atau disebut dengan gaya yang direktif yang menyediakan arahan dan supervisi yang spesifik dan jelas. Telling dicirikan oleh perilaku pemimpin yang menetapkan peranan dan memberitahukan seseorang atau grup tentang apa, kapan, dimana, bagaimana, dan dengan siapa melakukan berbagai tugas. Selain itu, gaya ini juga dilambangkan dengan komunikasi satu arah dimana pemimpin memberikan petunjuk atau arahan-arahan kepada bawahan dalam menyelesaikan tugas dan pencapaian tujuan ( Hersey dan Blanchard, 1982 ). Hal tersebut juga sesuai dengan materi perkuliahan yang disampaikan bahwa pada gaya telling pemimpin selalu memberikan arahan/intruksi. Adapun inisiatif pemecahan masalah dan pembuatan keputusan semata-mata dilakukan oleh pemimpin ( Thoha, 2007 ). Gaya ini sesuai jika diterapkan pada bawahan yang tingkat kematanganya rendah ( low maturity ), yaitu tidak mampu dan tidak mau memikul tanggung jawab untuk melakukan sesuatu yang berkaitan dengan pelaksanaan pekerjaan ( Hersey dan Blanchard, 1982 ). Menurut perkuliahan yang saya ikuti gaya ini menunjukan anggota kelompok yang tidak terbatas serta gaya ini juga cocok untuk daerah yang kurang maju ataupun pada kerajaan, Kekuatan dan kelemahan gaya kepemipinan telling adalah : a. Kekuatan dalam gaya kepemimpinan itu adalah dalam kejelasan tentang apa yang diinginkan, kapan keinginan itu harus dilaksanakan, dan bagaimana caranya. b. Kelemahan dari pemimpin dengan gaya kepemimpinan ini adalah pemimpin selalu ingin mendominasi semua persoalan sehingga ide dan gagasan bawahannya tidak berkembang. Semua persoalan akan bermuara kepadanya mengandung unsur ketergantungan yang tinggi pada pemimpin ( Moeljono, 2003 ) 2. S2 Selling ( menjajakan ) Dicirikan dengan perilaku tugas dan perilaku hubungan yang sama tinggi. Pada gaya yang disebut selling ini pemimpin masih menyediakan hampir arahan, namun melalui komunikasi dua arah dan penjelasan. Gaya ini sesuai jika diterapkan pada bawahan dengan tingkat kematangan rendah ke sedang ( low to moderate maturity ) yaitu tidak mampu tapi mau memikul tanggung jawab untuk melakukan suatu tugas ( Hersey dan Blanchard, 1982 ). Pemimpin juga menyediakan perilaku mendukung dengan berusaha mendengarkan perasaan pengikut tentang keputusan yang dibuat, serta ide-ide dan saran-saran mereka. Namun walaupun dukungan terhadap bawahan ditingkatkan, pengambilan keputusan tetap pada pemimpin ( Thoha, 2007 ). Hal ini sesuai dengan perkuliahan yaitu proses pengambilan keputusan terletak pada pemimpin, serta tugas-tugas di florkan. 3. S3 Partipating ( mengikutsertakan ) Dicirikan dengan perilaku hubungan yang tinggi dan perilaku rendah tugas. Pada gaya ini, perilaku pemmpin menekankan pada banyak memberikan dukungan dan sedikit dalam pengarahan. Dalam penggunaan gaya tiga ini pemimpin dan pengikut saling tukar menukar ide dalam pemecahan masalah dalam pembuatan keputusan. Komunikasi dua arah ditingkatkan, dan peranan pemimpin adalah secara aktiv mendengar. Tanggung jawab pemecahanan masalah dan pembuatan keputusan sebagian besar pada pihak pengikut ( Thoha, 2007 ). Gaya ini sesuai jika diterapkan pada bawahan yang tingkat kematanganya sedang ke tinggi ( moderate to high maturity ) yaitu mampu tapi tidak mau melakukan hal-hal yang diinginkan pemimpin ( Hersey dan Blanchard, 1982 ). Gaya participating berarti semua anggota maupun pemimpin ikut berpartisipasi dalam pengambilan keputusan, atau biasa dilakukan dengan musyawarah, mufakat ( demokrasi ). Tetapi jika dilihat pada Negara Indonesia saat ini meskipun sebagai negara demokrasi namun, musyawarah mufakat sudah jarang dilakukan. Dalam musyawarah kekuatanya terletak pada argumentasi bukan one vote one man. Voting dalam musyawarah berlaku “ yang punya ilmu diberi suara lebih banyak daripada yang tidak punya ilmu” ( penjelasan perkuliahan kepemimpinan ). 4. S4 Delegating ( mendelegasikan ) Dicirikan dengan perilaku hubungan dan perilaku tugas yang sama-sama rendah. Pemimpin dengan gaya seperti ini menyediakan sedikit arahan dan memberikan sedikit dukungan atau tingkat komunikasi dua arah yang rendah. Pemimpin mendelegasikan kepada bawahanya, dan bawahanya memiliki kontrol untuk memutuskan sendiri tentang bagaimana cara pelaksanaan tugas ( Toha, 2007 ). Gaya ini sesuai jika diterapkan pada bawahan yang tingkat kematanganya tinggi ( high maturity ) yaitu mampu dan untuk memikul tanggung jawab ( Hersey dan Blanchard, 1982 ). Di tengah-tengah dinamika organisasi, maka untuk mencapai efektifitas organisasi-organisasi keempat gaya kepemimpinan diatas perlu disesuaikan dengan tuntutan keadaan. Ada saatnya memerlukan S1 tetapi ada saatnya pula diperlukan S4 dan yang lainya. Pemilihan gaya kepemimpinan sendiri lebih diutamakan pada persoalan dengan siapa seorang pemimpin berhadapan atau dengan kata lain siapa yang menjadi bawahannya ( followers ) ( Hersey dan Blanchard, 1982 ). C. Gaya Kepemimpinan di masa Rasulullah Hijrah berarti perpindahan/migrasi dari nabi Muhammad dan pengikutnya dari Makkah ke Madinah. Hal ini terjadi karena ada isu mengenai akan dibunuhnya Nabi Muhammad SAW, maka secara diam-diam Nabi Muhammad bersama Abu Bakar pergi meninggalkan kota Makkah. Sedikit demi sedikit Nabi Muhammad dan pengikutnya berhijrah ke Yastrib 320 km utara Makkah. Yang kemudian kota Yastrib berubah nama menjadi Madinah ( Shamsi, 1984 ). Kepemimpinan nabi Muhammad terbagi didua kota yaitu di Makkah ( selama 13 tahun ) dan di Madinah ( selama 10 tahun ). Namun, di waktu yang lebih singkat jika dibandingkan dengan periode Makkah, Rasulullah berhasil menjadikan masyarakat di kota Madinah sejahtera, atau yang biasa disebut masyarakat madani. Terminologi masyarakat madani pertama kali dipopulerkan oleh Mohammad An-Nuqaib Al-Attas, yaitu Mujtamak madani yang secara etimologi mempunyai dua arti: pertama, masyarakat kota. Kedua masyarakat yang beradap (masyarakat tamaddun). Dalam bahasa Inggris dikenal dengan civilty atau civilation, dalam makna ini masyarakat madani dapat berarti dengan Civil Society yaitu masyarakat yang menjunjung peradaban.( Barnadib,1998 ). Dalam periode Madinah, konsep ini terlihat lebih jelas dibanding periode Mekah. Rasulullah telah menjadikan Madinah dengan kondisi yang begitu plural, berikut dengan berbagai aliran kepercayaan yang ada di dalamanya sebagai basis untuk meletakkan fondasi keislaman dan kemasyarakatan secara inklusif. Dalam hal ini, Rasulullah berhasil membentuk masyarakat yang menjunjung tinggi nilai, norma, dan hukum yang ditopang oleh penguasaan iman, ilmu dan peradaban. Konsep inilah yang belakangan ini diistilahkan sebagai konsep masyarakat madani ( Al-Mabarkafuri, 2008 ). Dengan demikian, istilah masyarakat madani memiliki korelasi yang begitu erat dengan masyarakat Madinah pada masa Rasulullah. Dari sini, kita bisa mengambil sebuah pendapat bahwa konsep masyarakat madani tidak hanya berkutat pada perwujudan kondisi masyarakat atau warga negara yang berperadaban secara materi (duniawi) saja. Akan tetapi, konsep masyarakat madani sebagaimana kondisi masyarakat Madinah pada masa Rasulullah adalah perwujudan suatu masyarakat yang memiliki basis keimanan dan keislaman yang kuat, yang kemudian dimanifestasikan dalam nilai-nilai dan norma-norma yang dijunjung tinggi oleh seluruh elemen masyarakat. Kondisi seperti ini harus pula disertai dengan geliat intelektual yang tinggi, sehingga menghasilkan komunitas yang berintegritas tinggi dan berperadaban luas. Dalam hal ini bisa disimpulkan bahwa masyarakat madani yang dibangun oleh Rasulullah di Madinah adalah masyarakat yang menjadikan akhirat (spirit keagamaan) sebagai fondasi, dan dunia (materi) sebagai bangunannya. BAB III KAJIAN TEORI A. Kepemimpinan Rasulullah s.a.w Dalam Perang Khandaq Perang khandaq dinamakan juga perang Ahzab dan jumhur para ulama sirah menyebutkan bahwa peperangan ini terjadi pada bulan Syawal tahun kelima hijriah. dan sebagian Ulama yang lain menyebutkan bahwa peperangan ini berkecamuk pada bulan Syawwal tahun keempat hijriyah. Al-Baihaqi memandang bahwa pada dasarnya kedua pendapat ini tidak beda. Karena yang berpendapat perang ini terjadi pada tahun ke-4 maksudnya empat tahun setelah Rasûlullâh hijrah ke Madinah dan sebelum tahun ke-5 berakhir [1]. Pemicu perang Khandaq ini adalah dendam lama orang-orang Yahudi yang di usir oleh Rasûlullâh dari Madinah dalam perang Bani Nadhir. Mereka diusir karena mereka menghianati perjanjian yang dibuat dengan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sejumlah tokoh Yahudi Bani Nadhir dan Bani Wa'il seperti Sallam bin abil Huqaiq, Hayyi bin Akhtab, Kinanah bin abil Huqaiq, Hauzah bin Qais al-Wa'iliy dan Abu Ammar al-Wa'iliy berangkat ke Mekah untuk mengajak kaum musyrikin Quraisy memerangi Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Mereka berjanji, "Kami akan bersama kalian berperang sampai berhasil menghancurkan kaum Muslimin. Berkat kegigihan para tokoh Yahudi Bani Nadhir dan Wa'il menggalang dukungan, akhirnya sebuah pasukan sekutu berkekuatan sangat besar pun terbentuk. Ibnu Ishâq[2] menyebutkan bahwa jumlah pasukan sekutu adalah sepuluh ribu pasukan yang terdiri dari kaum musyrik Quraisy, qabilah Gathafan beserta qabilah-qabilah yang ikut bergabung bersama mereka. Oleh karena pasukan orang-orang kafir ini terdiri dari berbagai kelompok, maka peperangan ini disebut juga dengan perang Ahzâb (beberapa kelompok). Komando tertinggi dipegang oleh Abu sufyan. Suasana yang tercipta pada perang khandaq begitu mencekam lantaran rasa lapar dan dingin yang menusuk kaum muslimin. Ditambah lagi pengepungan yang dilakukan oleh orang – orang kafir membuat posisi kaum muslimin semakin sulit. Begitu sulitnya kondisi saat itu, Imam Bukhari meriwayatkan pada hadis ke 3792 dan 3793 bahwa Rasul mengikatkan batu yang diganjalkan ke perutnya untuk menghilangkan rasa nyeri dan sakit di lambungnya akibat rasa lapar. Ketika Rasulullah saw dan para sahabat sedang menggali parit, terdapat bongkahan batu yang sulit dipecahkan. Sehingga Rasul saw turun langsung untuk memecahkan batu tersebut. Pukulan Rasul saw memercikkan api dan waktu itu beliau mengucapkan subhanallah. Kejadian tersebut berulang sampai tiga kali. Kemudian Rasulullah saw menceritakan kepada sahabat bahwa tatkala muncul percikan api, terpancar gambaran istana Persia disusul istana romawi dan istana mauqaqis. Beliau mengatakan sebentar lagi istana Persia akan menjadi milik kita, istana romawi akan kita kuasai dan istana mauqaqis akan kita miliki. Ucapan tersebut disambut dengan gembira oleh para sahabat. Dari sejarah perang khandaq tersebut bisa kita lihat betapa begitu luar biasanya sikap kepemimpinan yang ditunjukkan oleh baginda Rasul. Setidaknya ada 2 hal yang dapat dicontoh oleh pemimpin – pemimpin saat ini dari sikap yang ditunjukkan oleh baginda Rasul. Pertama, Rasul sebagai seorang pemimpin mampu menjadi problem solver yang terjadi dan yang kedua, Rasul sebagai seorang pimpinan mampu memompa semangat dan motivasi prajuritnya yang sedang berada dalam kondisi yang sangat sulit. Mampu menjadi penyelesai masalah yang muncul merupakan hal penting yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin. Dan hal tersebut telah ditunjukkan secara elegan oleh Rasul dalam perang khandaq. Di saat para sahabat mengalami kesulitan dalam memecahkan bongkahan batu, Rasul mampu menyelesaikan permasalahan yang ada. Bahkan tidak hanya menghadirkan solusi berupa teori tapi juga Rasul memberikan solusi kongkret dengan menghancurkan sendiri bongkahan batu yang menjadi masalah tersebut. Rasul bisa saja hanya memberikan perintah kepada sahabat – sahabat yang lain untuk menghancurkan batu, para sahabat tentu tidak akan berkeberatan jika Rasul tidak ikut menggali parit dalam perang tersebut. Tapi Rasul sebagai pemimpin malah melakukan hal sebaliknya, tidak hanya memberikan perintah tapi langsung turun tangan menyelesaikan masalah yang ada dan juga Rasul turut serta menggali tanah guna membuat parit. Rasul tidak hanya sekadar berteori dan memberikan perintah, tapi langsung turun kelapangan memberikan solusi kongkret. Imam Bukhari meriwayatkan dari Barra’ RA, ia berkata: ”Pada waktu perang Ahzab (khandaq), saya melihat Rasul saw menggali parit dan mengusung tanah galian sampai-sampai saya tidak melihat dada beliau yang berbulu lebat karena tebalnya tanah yang melumurinya”. Sikap kepemimpinan yang ditunjukkan oleh Rasulullah saw adalah bagaimana Rasul di tengah – tengah kondisi yang sangat sulit mampu menjadi penyemangat bagi sahabat – sahabatnya. Kondisi yang dialami oleh Rasul dan para sahabat ketika perang khandaq bukanlah sebuah situasi yang mudah. Berada dalam situasi pengepungan oleh orang – orang kafir serta kekurangan bahan makanan membuat kondisi saat itu menjadi sangat sulit. Namun dalam kondisi sulit tersebut Rasul sebagai seorang pemimpin mampu membangkitkan semangat juang para sahabat. Rasulullah saw menunjukkan sikap optimis yang luar biasa besarnya sehingga hal itu “menulari” sahabat lainnya dalam bentuk semangat yang menggelora sehingga kemenangan pun dapat diraih. Bahkan untuk perang khandaq kemenangan yang diraih tanpa peperangan. Sikap optimis Rasul tertuang dalam pernyataan Beliau yang mengatakan bahwa umat muslim akan mampu mengalahkan tiga bangsa besar yaitu Persia, Romawi dan Mauqaqis. Begitulah seharusnya sikap yang dimiliki oleh seorang pemimpin. Memberikan semangat kepada orang – orang yang dipimpinnya bahkan dalam kondisi tersulit sekalipun. Seorang pemimpin harus memiliki optimisme berkali lipat dari para jundinya. Karena optimisme dari pemimpin akan menentukan semangat juang dari para jundinya. Sangatlah tidak baik jika seorang pemimpin di tengah masalah yang dihadapi justru tampil di depan para jundinya dan menunjukkan sikap yang lemah dan penuh dengan rasa pesimis. Karena itu akan membuat para jundi dan orang – orang yang dipimpin akan menjadi lemah sehingga mudah dikalahkan. B. Strategi Perang Rasulullah saw 1. Akomodasi Budaya dan Memanfaat kontur Geografis Madinah Menyikapi informasi tentang kedatangan kaum musrikin dengan sepuluh ribu pasukan, nabi Muhammad pun langsung mengadakan majlis tinggi untuk membahas permasalahan yang datang ini. Diskusi pun dilakukan dengan dengar pendapat dari para sahabat. Diantara kebiasaan Rasûlullâh yaitu mengajak para sahabat beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bermusyawarah tentang hal-hal yang tidak ada wahyunya dari Allâh, baik berkaitan dengan peperangan atau yang semisalnya.[3] Salah satu pendapat yang keluar dan diterima oleh nabi yaitu pendapat mengenai pembuatan Parit yang di usulkan oleh Salman Al-Farisi[4], dikaatakan pada diskusi Salman Al-Farisi berpendapat, bahwa ketika di Persia dan ketika ia dan golongannya di kepung oleh musuh maka ia membangun Parit di sekitarnya. Hal ini merupakan hal baru, Fleksibelitas Islam sebagai agama amat terasa hal ini dengan mengambil pendapat dari bangsa lain yang membangun, hal ini merupakan akulturasi budaya yang amat baru bagi orang-orang Arab. Dengan usul tersebut nabi Muhammad SAW, langsung memerintahakan umat islam Madinah bahu-membahu membangun Khandak yang di usulkan oleh Salman Al Farisi dengan jumlah seribu orang, nabi Muhammad SAW keluar dan mengali parit untuk pertahanan dikatakan bahwa ketika itu kaum muslimin menggali dalam keadaan lapar, namun karena menggalinya secara bersama-sama maka pekerjaan tersebut dapat diselesaikan. Dikatakan untuk memotivasi kaum muslimin Nabi Muhammad berdoa kepada Allah untuk Muhajirin dan Ansar agar di masukan surga sebagai Suhada[5]. Yang di utamakan untuk di gali untuk dijadikan parit adalah wilayah Utara karena setelah melihat Kontur wilayah Madinah hanya wilayah Utaralah yang cukup datar karena sekeliling madinah kecuali Utara terdapat Perbukitan, Gunung-gunung dan perkebunan kurma. Untuk mewujudkan proyek pembuatan parit yang dikomandani langsung oleh Salman al Farisi tersebut, kaum muslimin harus membuat parit di depan pintu memasuki Negara Madinah sepanjang 5544 meter; lebarnya 4,6 meter; dengan kedalaman 3,2 meter. Pertimbangannya adalah ketika lebar parit kurang dari 4 meter, dikhawatirkan kuda-kuda perang musuh bisa lompat melewatinya. Sedangkan kedalaman 3,2 meter tersebut dimaksudkan ketika kuda telah terperosok ke dalam, tidak akan mampu untuk naik ke atas lagi.. 2. Penyisipan Spionase Pada perkembanagan selanjutnya dalam mennghadapi perang ini terdapat peristiwa pengakuan Islam dari Sahabat yang bernama : Nu'aim Bin Mas'ud Bin Amir Bin Anip Bin Sa'labah Bin Kunpad Bin halal Bin Kholawat Bin Asja Bin Roisa Bin Ghatafan. Mendatangi Nabi dan menyatakan Ke Islaman, dalam menyatakan ke Islamannnya kepada Nabi ia mengatakan Gologannya belum mengetahui ke imanannya. Untuk menyikapi hal tersebut Nu'aim di kirim untuk menjadi Sepionase, diakatakan nabi Muhammad mengajurkan agar Nu'am untuk kembali ke bani Quraisy dan mengatakan bahwa Bani Khuraizah telah berdamai kepada pasukan Nabi dan memberikan pesan kepada Quaraisy agar tidak mempercayai tipu daya Yahudi.[6] Tindakan ini telah mempropokasi pasukan Musuh dan pada akhirnya kepercayaan antar kaum telah terpecah, terlebih ketika kaum Yahudi enggan ikut perang dikarenakan peperangan dilakukan pada Hari Sabtu. Semangat pertempuran beralih pada perpecahan. 3. Dampak Strategi Perang Rasulullah saw Strategi Perang yang dilakukan oleh nabi amat memberi efek yang signifikan, pemanfaatan letak geografis serta kontur dari keadaan Madinah telah di manfaatkan oleh Nabi dan selanjutnya serangan koalisi kaum musrikin dapat terbendung. Kegusaran terjadi setelah melihat keadaan Madinah yang di kellingi oleh parit yang menyetop serangan kaum Musyrikin karena strategi ini merupakan strategi yang baru dan belum pernah dilakukan bangsa Arab pada era sebelumnya. Ketika ada pasukan Ahzab hendak mendekati parit, pasukan kaum muslimin segera melancarkan aksi panah memanahnya, sehingga pasukan Ahzab pun kembali mundur. Yang hanya bisa mereka lakukan adalah dengan berdiam di sekitar pintu masuk kota Madinah sembari memikirkan cara-cara alternatif untuk masuk menyerah ke dalam kota Madinah.. Namun, beginilah cara Allah memenangkan kaum muslimin. Perang itu tak sampai kontak fisik secara langsung. Dan Allah mengirimkan hawa dingin, dan angin topan untuk memporak-porandakan kemah serta bahan makanan para pasukan Ahzab setelah mereka bertahan selama 25 hari, bukan waktu yang sebentar. Tak ada lagi yang tersisa dari persediaan mereka untuk berperang. Bahkan setelah itu, Abu Sufyan berkata, “Wahai orang-orang Quraisy, demi Tuhan, besok kalian tidak akan melihat lagi kemah-kemah kalian. Bahkan semua kuda dan alas kaki kita telah hilang. Bani Quraizhah telah menghianati kita, dan telah sampai berita penghianatan itu kepada kita. Kini kita diterpa oleh dinginnya malam yang sangat menusuk tulang seperti yang kalian rasakan. Marilah kita tinggalkan tempat ini, karena aku juga akan meninggalkannya”. Dengan demikian, pulanglah pasukan Ahzab tersebut dengan tangan hampa. Akulturasi budaya ternyata membantu umat dalam mengembangkan Islam. Penyisipan spionase telah membawa dampak perpecahan di kubu kaum musryikin hal ini di tambah dengan sikap yahudi yang enggan berperang akibat hari sabtu. Hal ini yang membantu kelancaran strategi kaum muslimin. Dan pada akhirnya pertempuran pun di menangkan oleh umat Islam, dan menambah Pamor kekuatan kaum muslimin yang pada kesempatan sebelumnya mengalami kekenduran akibat kekalah pada Perang Uhud. Dampak perang uhud juga berdampak positif bagi Umat Islam karena secara tidak langsung telah menambah kepatuhan umat islam dalam menjalankan perintah nabi. BAB IV SIMPULAN 1. Setidaknya ada 2 hal yang dapat dicontoh oleh pemimpin – pemimpin saat ini dari sikap yang ditunjukkan oleh baginda Rasul pada perang Khandak. Pertama, Rasul sebagai seorang pemimpin mampu menjadi problem solver yang terjadi dan yang kedua, Rasul sebagai seorang pimpinan mampu memompa semangat dan motivasi prajuritnya yang sedang berada dalam kondisi yang sangat sulit. 2. Strategi Khandak dan penyisipan spionase telah berdampak pada kemenangan umat Islam, hal ini juga di dorong pada Faktor Internal kaum Musyrikin yang tidak kuat persatuannya yang dapat di hasut dengan spionase yang di kirim oleh nabi, dan dibuktikan juga dengan keenggan kaum yahudi untuk berperang karena di adakan pada hari sabtu. DAFTAR PUSTAKA A, Syalabi. Sejarah Kebudayaan Islam I. Jakarta : Al husna Zikra, 1997. Al-Mabarkafury, Shafy Al-Rahman. 2008. Al-Rahîq Al-Makhtûm. Kairo: Dâr Al-Wafâ. Barnadib, Imam Dan Sutari Imam Barnadib. 1998. Beberapa Aspek Substansial Ilmu Pendidikan, Yogyakarta: Andi. Davis, Keith.Dan John W Newstroon. 1985. Perilaku Dalam Organisasi. Alih Bahasa : Agus Dharma. Jakarta : Erlangga. F. A. Shamsi. 1984. "The Date Of Hijrah", Islamic Studies 23 : 189-224, 289-323. Hersey, Paul Dan Ken Blancard. 1982. Managemen Of Organizational Behaviour. New Jersey : Prentice Hall Inc Englewood Cliffs. Ibnu Hisyam, Sirah Nabawiyah, Lebanon : Maktabah al Arobi 213H -218 H Moeljono, Djokosantoso. 2003. Beyond Leadership Konsep Kepemimpinan. Jakarta : Erlangga. Nasution, Mulia. 1994. Managemen Personalia, Aplikasi Dalam Perusahaan. Jakarta : Djambatan. Winardi. 1983. Pemimpin Dan Kepemimpinan Dalam Management. Bandung : Alumni Syafiie, Inu Kencana. 2000. Al-Qur’an Dan Ilmu Administrasi. Jakarta : Rineke Cipta Shafiyyurrahman Al- Mubarakfury, Sirah Nabawiyah. (Jakarta : Al kautsar, 2002). Terjm. Cet.2 Thoha, Miftah. 2007. Kepemimpinan Dalam Managemen : Suatu Pendekatan Perilaku. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada Usman, Husaini. 2006. Management, Teori, Praktik Dan Riset Pendidikan. Jakarta : PT. Bumi Aksara. [1] As-Sîratun Nabawiyah, Ibnu Katsir, 3 hlm. 180 [2]. As-Siyâsah as-Syar'iyyah tentang pembahasan musyawarah [3] As-Sîratun Nabawiyah fi Dhau’il Mashâdiril Ashliyyah, hlm. 445 [4] Ibnu Hisyam, Sirah Nabawiyah, Lebanon : Maktabah al Arobi hlm. 175 [5] Ibnu Hisyam, Sirah Nabawiyah, Lebanon : Maktabah al Arobi hlm. 178 [6] A, Syalabi. Sejarah Kebudayaan Islam I. Jakarta : Al husna Zikra, 1997. hlm. 182

Tidak ada komentar:

Posting Komentar